KAMI MUSLIM DAN MANHAJ KAMI AHLUS SUNNAH

Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49) - LASKAR AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR | ROHIFA ROHIS AL-HIDAYAH SMKN 1 GODEAN

INGAT MATI

“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthoffifin: 4) - HILANGKAN RASA CINTA BERLEBIH TERHADAP DUNIA SEBAB KEMATIAN BUKANLAH AKHIR

MANAJEMEN WAKTU

“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3) Manfaatkan waktumu dengan optimal agar tak ada penyesalan di hari kemudian - TIM AKHWAT ROHIFA ROHIS AL HIDAYAH

DO'A - KUNCI KEBERHASILAN

“Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu,menghadapkan wajahku kepada-Mu, menyerahkan semua urusanku kepada-Mu, menyandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari ancaman-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.” - BERDO'A ITU "KAPAN PUN DIMANA PUN"

KURBAN - POWER OF GIVING

“Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450) - BERKURBAN HARUS PENUH SENYUM ^_^

Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2011

Menguak Misteri Rumah Tuhan


Judul Buku: Misteri Ka’bah
Penulis: Fathi Fawzi Abd al-Mu’thi
Penerjemah: R. Cecep Lukman Yasin
Penerbit: Zaman
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 245 halaman
Lebih dari satu milyar manusia di planet Bumi, lima kali dalam setiap harinya menghadap ke Ka’bah. Ya, Ka’bah merupakan tempat berkiblatnya umat Islam seluruh penjuru dunia, tanpa dibatasi oleh sekat-sekat suku, ras, maupun negara.
Ritual ini disebut shalat. Selain menghadap ke satu tempat yang sama yaitu Ka’bah, dalam melakukan shalat kaum muslim juga menggunakan bahasa Arab. Selain shalat, Ka’bah juga dibanjiri jutaan orang untuk berziarah dan menunaikan ibadah haji ke tanah suci setiap tahunnya. Di dalamnya terdapat tawaf, prosesi memutari Ka’bah sebagai syarat sahnya.
Bagaikan matahari yang dikitari planet-planet, setiap saat Ka’bah tak henti di-tawafi para peziarah. Lalu apakah makna Ka’bah sehingga dijadikan oleh Tuhan sebagai tempat menghadapnya umat manusia sebagai bentuk kepasrahan kepada-Nya? Bagaimanakah sejarah berdirinya Ka’bah dan kenapa disebut sebagai Baitullah atau Rumah Tuhan?

Hal inilah yang hendak dipaparkan buku setebal dua ratus empat puluh lima halaman ini. Penulisnya selain mencoba mengisahkan kembali sejarah Ka’bah yang masyhur, juga berusaha mendeskripsikan hal-hal yang selama ini dianggap belum diketahui umum.
Ditulis dengan gaya bahasa yang mengalir lancar, membuat siapapun yang membacanya akan dengan mudah dapat memahami yang disampaikan oleh penulis buku ini. Selain itu, gaya penulisannya yang menggunakan cara bertutur membuat kita tidak merasa lelah dan bosan menyusuri halaman demi halaman di dalamnya.
Diawali dengan kisah perjalan Ibrahim, Hajar, istrinya dan putra mereka yang baru lahir bernama Ismail. Ketiganya melakukan muhibah dari Kanaan menuju sebuah lembah yang sebelah timurnya berbatasan dengan Laut Merah serta dataran Tihamah dan Nejed, atas perintah Allah.
Malang bagi Hajar, setibanya di tanah ini, Ibrahim kemudian meninggalkannya berdua dengan Ismail yang mungil. Hanya keyakinan atas kasih sayang Tuhan-lah yang membuat ia tegar dan tabah menjalani semuanya. Keyakinan yang sama pula yang memberinya energi untuk berlari antara bukit Shafa dan Marwa tujuh kali mencari makanan bagi Ismail yang mulai menangis dan menghentakkan kakinya ke tanah karena kelaparan. Kelak, perjuangannya ini kemudian diabadikan Tuhan melalui perintah-Nya kepada umat Islam yang melakukan ibadah haji.
Siapa sangka, hentakan kaki Ismail melahirkan mu’jizat yang dapat dilihat dan dinikmati orang ribuan tahun kemudian. Bahkan, air Zamzam, demikian mu’jizat berupa air itu kemudian disebut, merupakan air yang diyakini kandungannya memiliki daya penyembuh.
Keberadaan air di lembah yang tandus, rupanya menarik banyak kafilah untuk singgah melepas dahaga dan lelah. Lambat laun, Makkah, kemudian berubah menjadi perkampungan yang ramai, tempat singgah beragam musafir. Ibrahim sendiri, beberapa kali menyempatkan datang menyambangi istri dan anak tercintanya.
Hingga akhirnya, datanglah perintah Tuhan kepada Ibrahim untuk membangun kembali rumah-Nya dari pondasi yang tersisa yang dahulu kala di bangun nabi Adam. Ibrahim dibantu Ismail kemudian mengumpulkan batu dari bukit Hira, Qubays dan tempat-tempat lainnya sebagai bahan material Ka’bah. Sedangkan Hajar Aswad (batu hitam) diperoleh Ibrahim dari malaikat Jibril yang sebelumnya tersimpan di Bukit Qubays saat banjir besar zaman Nabi Nuh.
Pasca wafatnya Ibrahim, Ismail dan anak-anaknya memiliki posisi sebagai penjaga Ka’bah. Seiring bergulirnya waktu, Makkah pun semakin berkembang pesat dan penduduknya semakin banyak. Keberadaan air Zamzam menjadikan Makkah sebagai oase yang makmur. Hal inilah yang membuatnya menjadi primadona bagi suku-suku yang ada disekitarnya.
Pertumpahan darah pun tak terhindarkan. Namun, nama Amr bin Luhayy dari suku Khuzaah menempati posisi teratas dalam sejarah kelam Ka’bah. Dialah orang yang pertama kali membawa berhala Hubal dan menempatkannya di dalam Ka’bah. Tidak berhenti sampai disitu, ia kemudian menyuruh kaumnya untuk mengelilingi patung tersebut dan memberinya persembahan.
Dari sinilah penyimpangan secara besar-besaran terhadap spirit tauhid agama Ibrahim mulai terjadi. Penyimpangan ini berlangsung selama berabad-abad hingga munculnya keturunan Ismail yang memiliki misi dari Tuhan untuk meluruskan kembali ajaran Ibrahim tersebut, bernama Muhammad saw.
Memang dalam lintasan sejarahnya, darah manusia seakan tak henti tertumpah di sekitar Ka’bah. Kesesatan dan penyimpangan bahkan pernah merajai dan disemayamkan di dalamnya. Namun sebagai rumah Allah, sesering itu pula Ka’bah dibersihkan dan dilindungi secara ajaib oleh si Pemiliknya. Buku ini merupakan catatan penting ihwal bagaimana sejarah dan campur tangan Tuhan berlaku atas Ka’bah.

Perempuan di Garis Batas


Judul Buku: Jihad Julia: Pemikiran Kritis & Jenaka Feminis Pertama di Indonesia
Penulis: Julia Suryakusuma
Penerbit: Qanita
Cetakan: Pertama, November 2010
Tebal: 240 halaman
Kesan pertama membaca judul buku ini adalah berisikan pemahaman Jihad, atau minimal di dalamnya memotret perjuangan menegakkan Jihad penulisnya. Namun rupanya asumsi tersebut buyar seiring dengan pembacaan yang saya lakukan atas muatan buku ini.

Berisi pikiran-pikiran seorang penulis dan aktivis perempuan yang karya-karyanya lebih banyak lahir berbahasa Inggris daripada Indonesia bernama Julia Suryakusuma. Buku ini sendiri merupakan kumpulan tulisannya di The Jakarta Post dan Tempo Edisi Bahasa Inggris (TEBI).

Buku berjudul lengkap Jihad Julia: Pemikiran Kritis & Jenaka Feminis Pertama di Indonesia ini, hemat saya kurang sesuai dengan substansi yang dimaksud dalam tulisan-tulisannya dan pijaran gagasan dalam pemikirannya. Kata “Jihad” seharusnya lebih mengena dan pas bila diganti dengan “ijtihad”. Mengapa?
Jihad, sejauh yang saya pahami, lebih cenderung pada kerja fisik dan mental. Seperti berperang di jalan Allah, mencari nafkah, mencari ilmu, dan lain-lain yang akumulasinya dan merupakan supremasi Jihad tertinggi adalah memerangi hawa nafsu diri kita sendiri.

Jika menggunakan sarana rohani atau spiritualitas, dengan jalan berdzikir bersama, berdo’a, shalawat dan lain-lain biasa dikenal dengan istilah Mujahadah. Kaum Nahdliyyin, sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama (NU), dikenal “pemilik hak paten” ritual ini.

Sedangkan Ijtihad, merupakan kerja rasionalitas manusia berupa pemikiran untuk mencari kebenaran, materialnya adalah akal. Inilah yang saya anggap cenderung lebih cocok disematkan sebagai judul buku setebal dua ratus empat puluh halaman ini tinimbang kata Jihad. Bukankah di dalamnya berisi pemikiran kritis seorang Julia? Terlebih dalam subjudul-nya pun tersurat kata Pemikiran Kritis.

Meski demikian hal tersebut tidak mereduksi substansi yang terkandung di dalam buku ini. Berisikan 32 artikel yang ditulis Julia dalam rentang waktu 2006-2007, buku ini sebagaimana yang dikatakan Komaruddin Hidayat dalam pengantarnya, merupakan kesaksian seorang muslimah di garis batas, dikarenakan dua hal: latar belakang formal akademisnya yang tidak berkaitan dengan studi keislaman, namun kedua, tulisan-tulisannya dalam buku ini merefleksikan gugatan kritis atas pemahaman keislaman masyarakat. (halaman. 17).

Tulisan-tulisan Julia dalam buku ini merupakan refleksi pemikirannya yang muncul dari pergaulan intelektual, emosional, dan bacaan yang luas dan dalam, serta pergaulannya yang kosmopolit. Semua itu kemudian diperkuat dengan kemampuannya menulis dengan narasi yang mengalir, kritis, dan disertai contoh-contoh konkret yang dia lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari, entah faktual atau sekedar fiktif.

Salah satu bukti kemampuannya dalam menangkap realitas dan menuangkannya dalam sebuah tulisan yang enak dibaca, baik karena kekenesannya maupun daya kritisnya nan memikat adalah dalam artikel berjudul Dijual: Surga dan Neraka.

Berisikan keprihatinan Julia atas fenomena kapitalisasi agama. Ia menyoal maraknya kegiatan tanpa makna agama sama sekalipun, kini bisa dianggap dakwah, yang seharusnya dimaksudkan untuk menyampaikan kebenaran dan “outreach” Islam. Namun kini, pergi berlibur, melakukan berbagai tugas keluarga, melakukan bisnis, kesenian dan bahkan peragaan busana kerap menggunakan label agama. (halaman 142).

Daya gugatnya juga menjalar ke berbagai lanskap kehidupan, termasuk sosial dan politik. Secara enteng, misalnya, ia menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara kanibal, pemakan sesamanya. Imbas kegusarannnya terhadap pengungkapan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, yang disinyalir dilakukan oleh (oknum aparat) negara dan hingga kini masih tertutup kabut misteri siapa dalang utamanya. Bahkan ada indikasi pemerintah SBY seakan tak acuh.

Sayangnya, sebagai seorang penulis, Julia pun tidak luput dari subyektifitasnya. Daya kritisnya menjadi tumpul ketika ia berbicara mengenai mantan koleganya yang juga mantan Menteri Keuangan yang tersandung kasus Bank Century, Sri Mulyani Indrawati.

Bahkan segudang puja-puji ia alamatkan secara deras terhadapnya. Sangat kontras dan diametral dengan kritikan tajam yang dialamatkan kepada agamawan, politisi maupun perilaku sosial masyarakat Indonesia. Secara berlebihan Julia bahkan menyandingkan Sri Mulyani dengan Margaret Thatcher, mantan perdana menteri perempuan paling berkuasa sepanjang sejarah Inggris!

lihat buku-buku menarik lainnya di Buku bermutu

Daya Gugat Sebuah Sajak


Judul Buku: Kepada Presiden yang Ter…..
Penulis: Bambang Oeban
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 180 Halaman

Siapa bilang karya sastra hanya jerit manja para pujangga yang jauh dari realita? Karya sastra memang kerap dituduh demikian. Bukan hanya karena gaya hidup para penulisnya yang cenderung ekslusif, kebanyakan tema yang dihasilkannya pun berkutat pada wilayah abstrak. Sedikit yang bersinggungan dengan hajat orang banyak.

Satu di antara yang sedikit itulah nama Bambang Oeban mencuat. Dia berani menyuarakan sajak yang menghentak, bukan hanya menyuarakan jerit hati kebanyakan masyarakat, namun juga memerahkan telinga penguasa. Dengan kata lain, Bambang bukan hanya mempertegas sosok sastrawan sebagai penghasil keindahan kata an sich, namun juga sarat akan suara kegetiran atas realita yang ada.

Buku berjudul lengkap Kepada Presiden yang Ter… ini –yang notabene merupakan kumpulan sajak-sajaknya- tidak melulu mempertontonkan keindahan berbahasa atau mementaskan kemampuan bersastra-ria penulisnya, tetapi di dalamnya juga berisi kritikan keras terhadap sosok pemimpin negeri ini, Presiden. Sebuah pembuktian tegas akan kepedulian sosok penulisnya atas kondisi riil bangsa, sekaligus membuktikan kecintaanya pada rakyat dan negara.

Sajak-sajaknya menebar aura semesta jiwa. Kejujuran yang mumpuni. Kuat mencengkeram batin pembaca. Ada semacam kerinduan panjang akan lahirnya sebuah kebudayaan yang utuh tanpa cacat. Bergulir mengalir seperti anak sungai yang mengalir jernih, menembus samudera penuh cahaya. Namun di sisi lain, Oeban sangat mahir mengeksplorasi kegetiran yang menimpa bangsanya. Perhatikan petikan berikut ini yang diambil dari salah satu sajaknya berjudul Bagaimana Indonesia?:

Apa jadinya kita,/bila negeri ini belum merdeka? / kekayaan alam yang berlimpah ruah,/ dirampok, diungsikan ke luar negeri./ keringat rakyat dijadikan kuli tanpa gaji./ beribu tubuh membelulang oleh kemiskinan./ para centeng petentang petenteng,/ menghisap darah saudara satu warna/ sambil tersenyum, berlindung/ di pantat penjajah, tak peduli kualat/ yang penting hidup sehat. (halaman 27-28)

Perhatikan baik-baik potongan sajaknya di atas, di dalamnya kita temukan nasionalisme seorang penyair sekaligus kegeramannya terhadap para penguasa. Di dalam karyanya tersebut, juga bisa kita temukan betapa seorang Bambang Oeban begitu dekat dengan persoalan hidup rakyat kebanyakan yang menjadi kuli baik di negeri sendiri, terlebih negeri orang lain.

Selain itu, aura religiusitas tak luput menguar dalam karya-karyanya. Seolah merepresentasikan kedalaman spiritual dari sosok si penulis. Aroma ini akan tercium kuat menyeruak dalam salah satu sajaknya berjudul Shalawat Indonesia, lagi-lagi spiritualitas seorang Bambang Oeban pun berada dalam garis nasionalisme-nya yang melangit. Berikut saya petikan potongan sajak tersebut:

Allah memberi kemerdekaan pada negeri ini/ bukan untuk dijadikan lading kesombongan/ Pancasila bukan hanya perhiasan/ namun meruang dalam jiwa yang membening/ para pahlawan bukan dijadikan barang dagangan/ Negeri merdeka masih terjajah kemiskinan?/ oh, mengapa keserakahan tak juga hilang?/ bagaimana kehidupan menjadi nyaman?

Namun keliru jika memahami sajak-sajaknya yang bersinggungan dengan kondisi sosial, politik, ekonomi maupun budaya hanya diartikan sebagai bentuk perlawanan pada kekuasaan yang resmi, melainkan sebagai mitra kerja dalam membangun kesadaran bersama, lebih mirip parlemen jalanan barangkali ketika parlemen yang sebenarnya tidak menyuarakan nurani.

Karena sebagaimana dikatakan Jaya Suprana dalam pengantarnya bahwa sajak-sajak di dalam buku ini merupakan jamu mujarab untuk menyembuhkan penyakit amnesia penyebab lupa daratan maupun lautan terhadap sumpah mereka (di masa pemilu) akan berbakti kepada kepentingan rakyat.

Jika fase awal puisi-puisi Indonesia modern, para seniman angkatan dua puluh dan pujangga baru menilik kemerdekaan sebagai sesuatu yang dirindukan dan menghadirkan bentuk soneta-soneta dalam mengungkapkan puisi secara bermakna, kini bentuk puisi tidak lagi terikat pada bentuk soneta. Setiap penyair memiliki cara pandang tersendiri dalam bermain kata-kata sehingga menghasilkan karya yang sangat padat makna.

Demikian pula dengan karya-karya Peraih penghargaan Anugerah Kebudayaan dari departemen Pariwisata dan kebudayaan tahun 2006 ini, meskipun tidak ia terapkan semua dalam puisi-puisinya. Sajak-sajak di dalam buku ini umumnya bersifat pemberontakan batin penulisnya. Sehingga daya gugat dalam sajak-sajaknya akan terasa begitu mengena di hati pembaca. Selamat membaca!

lihat buku-buku menarik lainnya di Buku bermutu

Kiamat (Memang) Sudah Dekat

Judul Buku: Ensiklopedi Kiamat
Penulis: Umar Sulaiman al-Asyqar
Penerjemah: Irfan Salim, dkk.
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, 2011
Tebal: 710 Halaman
Geger kiamat 2012 sempat menjadi perbincangan sengit di kalangan masyarakat. Isu yang berawal dari ramalan suku Maya ini tak urung sempat menimbulkan kepanikan pada beberapa komunitas kecil di Barat dan menjadi perdebatan, bahkan menghiasi berita di beberapa media massa baik cetak maupun elektronik.
Kiamat, atau berakhirnya sebuah kehidupan di semesta pada dasarnya memang sebuah keniscayaan. Bukan hanya dogma agama yang berbicara demikian, namun juga berbagai disiplin keilmuan lain, seperti fisika. Jangankan jagat raya, bukankah manusia sendiri pun mengalami siklus datang dan pergi meninggalkan dunia. Terlebih dalam Fisika sendiri, terciptanya semesta akibat dari peristiwa ledakan besar (Big Bang), maka seperti itulah dunia ini diprediksi akan berakhir.
Sebagai sebuah peristiwa besar, terjadinya kiamat dipastikan menjadi salah satu dogma yang terkandung dalam agama. Terlebih, kiamat merupakan jembatan menuju dunia eskatologis, demikian pula dalam (agama) Islam. Risalah yang diturunkan oleh Tuhan melalui utusan (rasul)-Nya berupa informasi yang terkandung dalam wahyu Tuhan (al-Qur’an) jelas melampaui segala pengetahuan manusia. Sehingga bagi yang mengimani, segala sesuatu yang terkandung di dalamnya adalah kebenaran. 





Lalu, benarkah kiamat akan terjadi tahun 2012 sebagaimana diributkan orang berdasarkan kalender suku Maya? Pada dasarnya, iman terhadap kiamat merupakan salah satu dasar dalam Islam dan tidak ada keraguan sedikitpun tentangnya. Bahkan Allah sendiri dalam al-Qur’an bersumpah bahwa kiamat pasti datang. Demikian dikatakan Umar Sulaiman dalam buku ini yang berjudul lengkap Ensiklopedi Kiamat: Dari Sakratul Maut hingga Syurga-Neraka
Kata kiamat berasal dari bahasa Arab qiyamah, merupakan bentuk masdar dari kata kerja qama-yaqumu, yang difeminakan (dimasukkan huruf ta’ marbuthah di akhir kata) untuk menunjukkan mubalaghah (kebesaran, kedahsyatan, kehebatan). Dinamakan demikian karena pada hari itu terjadi peristiwa peristiwa besar yang telah dijelaskan oleh nas-nas. Di antara peristiwa itu adalah bangkitnya (qiyam) manusia dari kematian untuk menghadap Tuhan semsesta alam. (hlm. 244)  
Meski demikian, berbeda dengan geger kiamat 2012, kapan tepatnya kiamat itu terjadi tidak seorangpun mengetahuinya, bahkan seorang Rasulullah kekasih-Nya. Al-Qur’an menjelaskan bahwa pengetahuan tentang waktu kiamat merupakan ilmu khas Allah yang tidak diberitahukan kepada siapapun baik malaikat maupun nabi. Hal ini bertujuan agar membuat manusia selalu waspada dan menantinya terus menerus. Sehingga tidak putus untuk terus beribadah kepada Allah. (Halaman 116).  
Namun dikarenakan Cinta-Nya kepada hamba-hamba-Nya, Allah memberikan “bocoran” berupa tanda-tanda yang muncul menjelang terjadinya kiamat melalui rasulullah. Sehingga yang mengabarkan kepada kita mengenai tanda-tanda tersebut adalah rasulullah dalam hadis-hadis beliau. Secara garis besar tanda-tanda tersebut dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian: tanda-tanda kecil dan tanda-tanda besar. Sebagaian tanda tersebut ada yang telah terjadi, dan sebagaian lagi masih menunggu.
Diutus dan wafatnya Rasulullah saw., terbelahnya bulan, api Hijaz menerangi punuk unta di Basrah, dan terhapusnya jizyah merupakan tanda-tanda dekatnya kiamat yang telah terjadi. Sedangkan tanda-tanda yang masih berlangsung dan mungkin terulang lagi adalah terjadinya penaklukan dan peperangan, munculnya dajal-dajal yang mengaku nabi, munculnya banyak fitnah di intern umat Islam, menyerahkan urusan bukan kepada ahlinya, rusaknya moral kaum muslim, hamba sahaya melahirkan tuannya, konspirasi bangsa-bangsa untuk menghancurkan umat Islam, munculnya berbagai bencana, melimpahnya harta, putusnya silaturahmi, guncangnya nilai-nilai dan kejamnya aparat.      
Adapun tanda-tanda kiamat yang belum terjadi adalah; jazirah Arab kembali sarat dengan kebun dan sungai-sungai, Bulan terlihat membesar, binatang buas dan benda mati dapat bicara, sungai Efrat menyingkap gunung emas, keluarnya kekayaan alam yang terpendam di perut Bumi, kaum muslim terkepung di Madinah, Jahjah menjadi raja, munculnya beragam fitnah, dan munculnya al-Mahdi.
Kendati demikian, yang paling nyata atas dekatnya waktu kiamat adalah munculnya tanda-tanda besar yaitu; turunnya kabut dari langit, munculnya fitnah Dajal, turunnya Isa al-Masih, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, hapusnya Islam hilangnya al-Qur’an serta musnahnya orang-orang shaleh, manusia kembali kepada masa jahiliah dan menyembah berhala, penghancuran Ka’bah, Matahari terbit dari Barat, keluarnya binatang melata, serta munculnya api yang menggiring manusia ke Mahsyar.      
Namun yang perlu digarisbawahi adalah bagi orang-orang yang beriman bahwa kiamat bukan merupakan akhir segalanya, begitu pula halnya dengan kematian. Bahkan kehidupan panjang manusia justru baru dimulai, yang terpilah menjadi dua: Surga dan Neraka. Keduanya bahkan telah diciptakan dan telah ada. (hlm. 479) Keduanya merupakan dua kesatuan yang diciptakan terpisah, eksistensi keduanya tidak akan pernah berakhir. (hlm. 501) 
Lazimnya sebuah ensiklopedi, buku setebal tujuh ratus sepuluh halaman ini memuat beragam hal yang meliputi keberadaan kiamat. Namun yang paling menarik adalah ketekunan penulisnya untuk menghimpun sumber-sumber dari al-Qur’an dan hadis secara tematik. Selain itu, buku ini juga dilengkapi berbagai pendapat ulama salaf dan khalaf mengenai kiamat, tidak lupa pula dengan interpretasi penulisnya sendiri. Meski demikian masih terbuka bagi penafsiran lain atas tanda-tanda terjadinya kiamat tersebut. Yang jelas dengan diutusnya Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir merupakan tanda kuat bahwa kiamat memang sudah dekat. 
lihat buku-buku menarik lainnya di Buku bermutu

Kekuatan Tertinggi Semesta

Judul Buku: The Power
Penulis: Rhonda Byrne
Penerjemah: Rani Moediarta
Penerbit: Gramedia Pustaka utama
Cetakan: I, Desember 2010
Tebal: 290 Halaman
 “Anda semestinya memiliki segala sesuatu yang Anda cintai dan dambakan. Pekerjaan Anda semestinya pekerjaan yang mengasyikkan, dan Anda semestinya mencapai apa yang ingin Anda capai. Hubungan Anda dengan keluarga dan teman-teman semestinya penuh kebahagiaan. Anda semestinya memiliki uang untuk membiayai hidup yang Anda impikan”.  
Itulah kalimat pengantar yang dilontarkan Rhonda Byrne untuk menstimulus pembaca buku ini. Setelah sukses dengan buku pertamanya The Secret, yang menjadi bestseller di seluruh dunia dan diterjemahkan ke dalam 46 bahasa, kini Rhonda menuangkan kembali gagasan-gagasannya dalam buku berjudul The Power. Kelahiran karya inovatif ini dilandasi oleh itikad mulianya untuk menyebarkan virus kebahagiaan bagi miliaran manusia, sebagaimana yang telah diupayakannya dengan buku pertama.  

Rhonda dalam Sekuel ini, berusaha mengungkapkan suatu kekuatan tunggal paling dahsyat di semesta kita, yaitu Daya. Pada dasarnya daya tidak dapat dirumuskan secara definitif, namun keberadaannya dapat dirasakan. Mengutip kata-kata sang penemu telepon, Alexander Graham Bell, bahwa “apa daya ini sesungguhnya, tak mampu saya ungkapkan; yang saya tahu hanyalah daya itu ada”. (Halaman 5) 


Keberadaan daya dapat dibuktikan justru dengan efek yang ditimbulkannya. Rhonda menggambarkan bahwa tanpa daya, kita tak pernah lahir. Tanpa daya, tiada satu manusia pun di planet ini. Setiap penciptaan, dan kreasi manusia berasal dari daya. Kesehatan sempurna, jalinan hubungan yang luar biasa, karier yang anda cintai, hidup yang penuh kebahagiaan, dan uang yang kita butuhkan untuk menjadi, melakukan dan memiliki segala yang kita inginkan, semua berasal dan membuktikan keberadaan daya itu sendiri.

Jika dalam buku pertamanya (The Secret) Rhonda lebih menekankan faktor hukum tarik menarik (the law of attraction) sebagai rahasia di balik kesuksesan orang-orang pada masa lampau, maka dalam buku ini Rhonda hendak mengungkap keberadaan daya sebagai penggerak terhadap kinerja seluruh semesta. Kekuatan daya terpendam dalam diri manusia, dan memerlukan kunci-kunci untuk membukanya. Menurut Rhonda, ada tiga kunci pembuka daya tersebut; cinta, syukur dan permainan.

Untuk menggunakan cinta sebagai daya utama dalam hidup, kita harus mencintai seakan-akan belum pernah mencintai sebelumnya. Rhonda menganjurkan agar kita jatuh cinta pada kehidupan ini. Karena ketika kita jatuh cinta pada kehidupan, tiap batasan akan menjadi lenyap. Jatuh cinta-lah pada kehidupan, itulah kunci pertama dan utama membuka daya, lepaskanlah apa yang ada dalam diri, dan kita akan menjadi tak terbatas dan tak tertaklukan. (halaman 135) 

Cinta membuat manusia memancarkan dayanya secara luar biasa. Semakin besar cinta yang kita lepaskan, akan semakin besar pula daya yang terpancar dalam diri. Kita dapat memanfaatkan daya, sebagai kekuatan tertinggi di semesta ini hanya dengan mengungkapkan rasa cinta. Bila diilustrasikan, cinta ibarat air dalam gelas dan tubuh kita adalah gelas. Ketika dalam gelas hanya terdapat sedikit air, berarti gelas itu kekurangan air. Maka yang harus kita lakukan untuk memenuhi gelas dengan air hanyalah mengisinya dengan air. Begitulah antara cinta dan tubuh. 

Rasa syukur merupakan kunci kedua pembuka daya sekaligus satu ungkapan cinta yang tertinggi. Setiap kali bersyukur, berarti kita memberikan cinta, dan berdasarkan hukum tarik menarik, apapun yang kita berikan akan kembali kepada kita. Entah berterima kasih (syukur) kepada seseorang, mobil, liburan, keindahan matahari terbenam atau peristiwa apapun yang menyenangkan kita, maka pada dasarnya kita sedang memberikan cinta, dan akan menerima kembali lebih banyak kegembiraan.  

Ya, rasa syukur akan melipatgandakan segala sesuatu dalam hidup kita. Ketika kita bersyukur atas segala sesuatu yang kita miliki, betapa pun kecilnya, yakinlah kita akan menerima lebih banyak lagi. Rhonda mencontohkan Albert Einstein, salah satu ilmuwan terbesar yang pernah hidup, ketika ditanya tentang pencapaian tertingginya ia menjawab, mengucapkan terima kasih pada orang lain sekurang-kurangnya seratus kali dalam sehari. Hasilnya, namanya semakin menjulang sebagai ilmuwan. 

Sedangkan kunci ketiga -setelah cinta dan syukur- adalah permainan. Cara ini dapat membuat diri merasa lebih nyaman dalam setiap hal dalam hidup. Kita dapat membayangkan diri kita sebagaimana yang kita angankan, dan berimajinasilah sesuai dengan yang citra yang kita inginkan tersebut. Maka, menurut Rhonda, ketika kita membayangkan impian kita, maka hukum tarik menarik akan menerimanya sekarang. (Halaman 163) Dengan kata lain, maka daya akan menggiring tindakan kita agar dapat mewujudkan semua impian yang kita bayangkan.
 
 lihat buku-buku menarik lainnya di Buku bermutu

Menggagas Pemimpin Berbudaya

Koran Sindo, 24 April 2011

Judul Buku: Culture Based Leadership
Penulis: Herry Tjahyono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2011
Tebal: 273 Halaman

Herakleitos, filsuf Yunani Kuno, menyatakan bahwa segala sesuatu mengalir seperti sungai, segala sesuatu berubah, panta rhei. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Perubahan, entah yang terkait dengan diri sendiri (personal context) maupun sosial (social/organization context), mau tak mau akan melibatkan sebuah proses penting bernama transformasi, yang melibatkan sebuah proses perubahan mendasar (fundamental change).Transformasi juga akan melibatkan dua kata vital: kepemimpinan (leadership) dan budaya organisasi (organization/corporate culture). Secara de facto, keduanya merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dalam mengelola sebuah proses transformasi two sides of a coin.

Lebih khusus lagi,yang akan menjadi ujung tombak untuk memenangkan proses transformasi dalam organisasi dan perusahaan, ada dua: Kepemimpinan berbasiskan budaya (Culture Based Leadership) dan Budaya Kinerja Tinggi (High Performing Culture). (halaman 17) Buku Culture Based Leadership ini berusaha menguak rahasia- rahasia penting yang telah membuat sebagian perusahaan mampu menjadi great companies. Rahasia itu terentang dari bagaimana budaya mampu mendongkrak kinerja, teknik pemetaan dan pengukurannya, pembangunan budaya sehat dan kuat, hingga Indeks Budaya (HPC Index) yang menjadi mercusuar kinerja organisasi.

Maju-mundurnya suatu organisasi akan sangat dipengaruhi apa yang dilakukan dan diputuskan pemimpinnya.Pemimpin adalah representasi organisasi, sebesar apa pun organisasinya, berapa pun jumlah anggotanya dan siapa pun yang bernaung di bawahnya, seorang pemimpinlah yang memutuskan ke mana organisasi akan dibawa, dan bagaimana cara membawanya. Kekuatan manusia ialah bahwa ia mampu memahami keseluruhan realitas, capax universi. Seorang pemimpin, selayaknya mampu membawa seluruh alam semesta (organisasi maha besar) serta organisasi yang dipimpinnya ke dalam penghayatannya sehari-hari. Inilah salah satu nilai terdalam dan terluhur dari seorang pemimpin.

Seperti kita ketahui, salah satu kelemahan kepemimpinan di tanah air adalah banyaknya pemimpin yang ragu-ragu, serba bimbang, indecisif, apa pun latar belakang dan alasannya. Padahal, inti dari kepemimpinan adalah pengambilan keputusan. Kepemimpinan sesungguhnya juga sebuah proses belajar, maka dalam diri seorang pemimpin harus terkandung kapasitas seorang pembelajar. (halaman 234-235). Itu sebabnya, pengertian culture based leadership (CBL) dalam buku ini bermuara pada inti kepemimpinan yang sama, yakni pengambilan keputusan. Namun, keunikan sekaligus keistimewaannya adalah pada dasar dan jenisnya, yakni terkait dengan otentisitas dan kultural (authentic and cultural decision).

Otentik berkaitan dengan nilai-nilai diri sebagai pemimpin, sedangkan kultural berkaitan dengan nilai-nilai perusahaan atau budaya perusahaan. Keputusan otentik dalam CBL akan berhubungan dengan nilai-nilai diri seorang pemimpin. Semakin baik nilai-nilai diri pemimpin, dan semakin kuat nilai-nilai diri itu melandasi segenap sikap dan perilaku kepemimpinannya, maka semakin otentik segenap keputusan kepemimpinannya, begitu pula sebaliknya. Sedangkan keputusan kultural berkaitan dengan interaksi kepemimpinan dan budaya dalam bentuknya yang paling positif dan produktif.

Hal ini berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin menyerap, menyelaraskan, dan mengaktualisasikan atau merealisasikan nilai-nilai organisasi yang dipimpinnya. ( halaman.253-261). Jadi, proses pengambilan keputusan kepemimpinan dalam CBL ialah berdasarkan pada nilai-nilai diri dan nilai-nilai perusahaan/organisasi yang selaras. Dengan tujuan terciptanya pembangunan kepercayaan (trust) serta komitmen (commitment) dari key stakeholder. Dalam konteks bernegara, karakter ini harus dapat ditemukan dalam diri sosok pemimpin/presiden sehingga rakyat sebagai key stakeholder tidak menjadi korban dan dirugikan.

Selain itu, Budaya Kinerja Tinggi (High Performing Culture/ HPC) merupakan ujung tombak lain dari proses transformasi. Terdapat lima langkah rawan dan krusial dalam pembentukan HPC; dimulai “di” atau “dari” atas, ukurlah budaya saat ini, identifikasikan dengan jelas tujuan dan nilai, komunikasikan tujuan dan nilai-nilai itu ke segenap karyawan, dan ajarlah semua manajer untuk ikut membentuk lingkungan, atau mengampanyekan tujuan dan nilai-nilai. Membangun kepercayaan adalah modal terbesar seorang pemimpin.

Banyak cara dilakukan oleh pemimpin untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan. Indonesia sebagai sebuah organisasi yang besar, memiliki pemimpin bernama Susilo Bambang Yudhoyono dengan kepercayaan penuh dari rakyat melalui politik pencitraan, hingga terpilih dua periode. 
 
lihat buku-buku menarik lainnya di Buku bermutu

Struktur Ajaib dalam al-Qur’an


Judul Buku: Miracle of The Qur’an
Penulis: Caner Taslaman
Penerjemah: Ary Nilandari
Penerbit: Mizan
Cetakan: Pertama, November 2010
Tebal: 482 Halaman


Masihkah diperlukan sebuah pembuktian ilmiah atas wahyu Tuhan yang di kalamkan kepada manusia? Apakah upaya tersebut dapat meyakinkan orang-orang yang meragukan dan bahkan mengingkarinya? Atau justru upaya tersebut menjadi blunder, mengingat rasionalitas manusia yang menghasilkan penemuan-penemuan ilmiah selalu berevolusi.

Pada prinsipnya agama, sebagai sistem yang dirancang oleh Allah, tidak mungkin bertentangan dengan hukum-hukum alam universal yang dicanangkan oleh Tuhan yang sama. Akan tetapi, kaum fundamentalistik fanatik, yang menganggap dirinya juru bicara Tuhan, dan ilmuwan ateistik ortodoks, berusaha sekeras-kerasnya untuk membuktikan dua hal tersebut secara kontradiktif.

Kondisi ini memunculkan keprihatinan pada diri Caner Taslaman. Keserasian agama dengan hukum-hukum Alam (sains) hendak dibuktikan oleh doktor kajian Filsafat dan Agama Universitas Marmara Turki tersebut dalam buku berjudul lengkap Miracle of The Quran: Keajaiban al-Qur’an Mengungkap Penemuan-penemuan Ilmiah Modern ini, dengan membedah kandungan al-Qur’an sebagai medium pembuktiannya.


Kehadiran buku setebal empat ratus delapan puluh dua halaman ini, seakan hendak “menantang” dua kutub ekstrimitas di atas. Dengan menggunakan ayat yang sama dibaca kaum fundamentalistik fanatik agama dipadukan dengan temuan-temuan atas kerja ilmiah yang lazim digunakan oleh seluruh kalangan saintifik, melahirkan sebuah konklusi mudah ditebak, bahwa sejatinya antara agama dan sains seiring sejalan.
Salah satu bukti yang disuguhkan oleh Taslaman adalah dalam Q.S. al-Rum; 3, yang meramalkan kekalahan Romawi di bagian terendah di muka Bumi. Ungkapan ayat adna al-ardh selama ini bisa diterjemahkan kalangan ulama konvensional sebagai “daerah yang dekat”, padahal menurut Taslaman terjemahan tersebut tidak mengungkapkan inti makna ayat, yang lebih tepat bermakna “bagian terendah di Bumi”.
Terbukti, sejarah mencatat bahwa peristiwa tersebut terjadi di Laut Mati, sebuah daerah yang diperkirakan berada empat ratus meter di bawah permukaan laut, sekaligus menjadikannya sebagai titik terendah di muka bumi, yang validitasnya baru terbukti beberapa millenium kemudian dengan ditemukannya teknik-teknik pengukuran permukaan Bumi yang canggih (hlm. 275).
Dengan demikian, upaya Taslaman untuk membuktikan mu’jizat al-Qur’an dapat tercapai, dengan pernyataan al-Quran empat belas abad yang lalu bukan sekedar meramalkan peristiwa yang akan terjadi di masa datang, namun juga secara terperinci dan jitu menunjukkan kondisi geologis peristiwa tersebut terjadi. Inilah bukti kebenaran al-Qur’an di mata sains, yang baru belakangan mampu memahaminya. 
Ketertinggalan sains atas al-Qur’an merupakan hal yang lumrah, mengingat pengetahuan al-Qur’an disajikan dengan bentuk yang berbeda dari buku-buku pada umumnya, yang berbasiskan metode ilmiah. Al-Qur’an mengikuti garis lurus dalam menyampaikan informasi, sementara pengetahuan yang disampaikan buku-buku sains kepada kita diperoleh setelah akumulasi data yang sangat lama.
Selain itu, informasi yang terkandung dalam al-Qur’an pada dasarnya turun dalam bentuk konklusif terkadang misterius, dan tugas manusia menemukan formulasi yang tepat untuk memahaminya. Berbeda dengan sains, yang harus melalui proses empirik mapun penelitian hingga ditemukan sebuah kesimpulan.   

Misteri Angka 19
Selain mengupas tujuh puluh tema al-Qur’an yang dihubungkan dengan penemuan sains terkini, Taslaman juga menyuguhkan lima puluh keajaiban matematis al-Qur’an dalam konkordansi leksikal. Namun yang membuat buku ini istimewa adalah sajian bagi pembacanya dengan menyuguhkan jamuan berupa struktur ajaib dalam al-Qur’an yang dihasilkan angka sembilan belas.
Mengapa sembilan belas ? karena angka ini merupakan bilangan prima yang memiliki sifat menarik. Dalam al-Qur’an, terdapat angka selain sembilan belas, tetapi kebanyakan digunakan selain kata sifat. Namun dalam surat al-Mudatstsir, angka sembilan belas ditekankan dengan pernyataan ayat, Di atasnya ada 19 dan ayat yang ke-31 yang menjelaskan fungsi serta tujuan bilangan 19.  
Ayat 31 dalam surat al-Muddatstsir ini sedemikian istimewa bukan hanya karena panjangnya yang di atas rata-rata ayat lain, namun dalam ayat inilah keajaiban 19 dapat dibuktikan. Misalnya, ayat ini terdiri dari 57 kata (19x3), sementara ayat sebelumnya terdiri dari 3 kata. Jika dikalikan 3 kata dengan angka 19 yang terdapat dalam ayat 30, maka hasilnya adalah 57, jumlah kata yang terdapat dalam ayat 31!
Menurut Taslaman, hal inilah yang menjadi bukti paling kuat atas mu’jizat al-Qur’an yang tidak dapat ditiru oleh siapapun. Lalu mengapa harus matematika? Seraya mengutip ucapan Galileo, Ia menyatakan bahwa matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan untuk menuliskan jagat raya. Taslaman berasumsi hal ini untuk memelihara bukti kebenaran al-Qur’an itu sendiri. (halaman. 372)
Sebagai Mu’jizat kenabian Muhammad, saw. Keajaiban yang terkandung dalam al-Qur’an, ditujukan untuk semua generasi umat manusia mengingat posisi Muhammad sendiri sebagai nabi akhir zaman. Ia menyapa pada berbagai etnis, budaya, tradisi, dan lingkup sosial serta harus menjadi problem solver bagi aras global. Sayangnya, Taslaman lebih tertarik untuk mendedah mu’jizat al-Qur’an dari sisi sains sehingga wilayah sosial tidak tergarap. Dengan kata lain, (berdasarkan disiplin keilmuannya) ia lebih tertarik untuk menunjukkan keajaiban al-Qur’an kepada yang meragukannya dibanding mengupas tawaran-tawaran solutif al-Qur’an atas problematika kekinian.
Selain itu, menyajikan buku dengan merengkuh sebanyak mungkin tema membuat bahasan kurang mendalam, ditambah dengan absennya rujukan berupa catatan kaki membuat pembaca kesulitan melacak referensi yang digunakan penulis, meskipun terdapat daftar pustaka di bagian akhir buku, toh tetap saja sulit membedakan mana orisinalitas pemikiran Taslaman dan hasil kutipan.        
Meski demikian hal tersebut tidak mengurangi substansi buku ini, yang  mengajak kita untuk mempelajari ayat-ayat Allah, sebuah perjalanan yang akan membawa pembacanya menjelajah mulai dari dasar lautan hingga ketinggian angkasa, dari penciptaan alam semesta hingga penemuan termutakhir tentang pilar-pilar langit, dari embrio hingga kehidupan lebah, dan dari pertanyaan filsafat paling mendasar hingga persoalan fisika paling rumit.
 
lihat buku-buku menarik lainnya di Buku bermutu

Sabtu, 14 Agustus 2010

Santapan pengganti makan siang


Judul 30 Hari Berburu Pahala Ramadhan  
No. ISBN
Penulis Syakh Muhammad Al Syahputra 
Penerbit TransMedia Pustaka 
Tanggal terbit Agustus - 2010 
Jumlah Halaman
Berat Buku -
Jenis Cover Soft Cover 
Dimensi(L x P) -
Kategori Islam 
Bonus
Text Bahasa Indonesia

Jumat, 13 Agustus 2010

Santapan lezat tak boleh terlewatkan

Judul          : Buku Pintar Shalat Bagi Wanita

No. ISBN  : 9799533066
Penulis       : Dr.Adil Sa'ad
Penerbit     : Zaituna

Tanggal terbit Agustus - 2010
Jumlah Halaman 213
Berat Buku -
Jenis Cover      :Soft Cover
Dimensi(L x P) -
Kategori          :Islam
Bonus -
Text Bahasa Indonesia

SINOPSIS BUKU - Buku Pintar Shalat Bagi Wanita

Shalat merupakan salah satu Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat. Nabi bersabda,"Sesungguhnya amal yang pertama kali di hisab dari hamba adalah shalat. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak ia telah rugi dan menyesal." (HR. at- Tirmidzi)

***

Hukum shalat adalah wajib bagi setiap wanita sebelum ia melangkahkan kakinya meninggalkan dunia fana ini. Dan kadar Islam seorang wanita di dunia ini akan dinilai betul dari penjagaan dirinya terhadap shalat. Seorang wanita yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu adalah wanita yang di sayang Allah dan Rasul-Nya, di cintai para malaikat dan orang-orang beriman, karena ia selalu mengingat-Nya dan melaksanakan perintah Allah dalam kondisi apapun jua dan selalu bersama mereka yang beriman melintasi ruang dan waktu karena dipersatukan oleh ketakwaan yang sama.

Namun bagaimanakah cara shalat yang benar dan efektif yang bisa menjamin dirinya dan amalnya selamat di akhirnya nanti dan agar ia mendapat kasih sayang dari Allah?
Temukan segera keajaibannya dalam buku ini...
Selamat membaca.

Santapan siang buatan Fahmi basya









Judul
ASMAA'UL HUSNAA versi Al-Quran & Rahasia Do'a  
No. ISBN
9789791102759 
Penulis
KH. Fahmi Basya 
Penerbit
Tanggal terbit
Agustus - 2010 
Jumlah Halaman
111 
Berat Buku
-
Jenis Cover
Soft Cover 
Dimensi(L x P)
135x205mm
Kategori
Islam 
Bonus
Text Bahasa
Indonesia 



Mengapa para nabi do'anya makbul? 391 Pasang Nama Allah di dalam Alquran untuk disebut sepanjang zaman

Allah SWT menganugerahkan otak yang membuat manusia menjadi makhluk yang sempurna, berakal dan cerdas. Namun, potensi kecerdasan hanya akan berarti jika mempunyai manfaat dan daya guna. Pertanyaannya, sudahkah kita memanfaatkan atau mendayagunakan otak kita? Otak kita ternyata juga merupakan sebuah "kitab". Kitab yang menyimpan apa yang kita dengar, rasa, lihat, dan ucapkan. Dan, sudahkah ada nama-nama Allah di sana? Seberapa banyak? Alangkah indahnya jika kitab yang kita miliki menyimpan seluruh Asmaa'ul Husnaa yang sesuai Al-Quran.

Inilah, yang jika saatnya tiba, akan membuat kita tersenyum penuh kemenangan karena menjadi salah satu orang yang beruntung. Tidak banyak orang yang dapat menyimpan nama-nama Allah versi Al-Quran ini.

Sumber :

PENCARIAN